Silaturahmi dengan Dirjen Ekonomi Kreatif, Media, Desain dan Iptek

Dalam acara Silaturahmi dengan Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif, Media, Desain dan Iptek (DJ EKMDI), Bapak Harry Waluyo, memenuhi undangan dari Direktur Desain dan Arsitektur (DDA), Ibu Zoraida Ibrahim, pada hari Jumat 11 Oktober 2013 jam 13:00 di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, saya merasa perlu berbagi karena Bapak DJEKMDI yang berlatarbelakang antropologi dan erat dengan kebudayaan tersebut memaknai pertemuan dengan pesan yang sangat mendalam kepada arsitek lanskap Indonesia. Silaturahmi yang pada awalnya mengundang saya, Ibu Siti Nurisyah, Bapak Omar S. Ichwan, Bapak Hengki Heksanto, sehari sebelum silaturahmi ditambah dengan Ibu Mariana Harahap, Ibu Peni Susanti, dan Ibu Dani Mirwanti. Silaturahmi juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DJEKMDI, Ibu Poppy Savitri.

Bapak DJ EKMDI membuka silaturahmi dengan menyajikan sebuah film berdurasi sekitar empat menit tentang APEC yang baru selesai bersidang minggu lalu. Tiga kata penting yang tertinggal di benak saya dari film tersebut adalah : ‘development’, ‘sustainability’ dan ‘resilience’. Bapak DJ EKMDI menggarisbawahi 2 (dua) hal penting, yaitu : (1) negara2 APEC memiliki komitmen tinggi untuk tetap bersatu menghadapi perubahan2 yang terus bergulir di dunia dan (2) nama pemerintah Indonesia yang sangat bagus di internasional. Menanggapi film tersebut pertanyaan2 dan penyataan2 beliau sangat mengesankan, diantaranya menanyakan kepada hadirin ‘siapa pemrakarsa APEC yang dari awal sampai kini tetap komit’. Ibu Siti Nurisyah menyahut cepat : Brunai. Sebuah negara kecil, namun memiliki sumberdaya alam yang tidak dapat kita abaikan.

Silaturahmi dengan nasi kuning tumpeng di atas meja, juga membagikan fotokopi memuat penjelasan lengkap tentang filosofi dibalik kuliner Jawa yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Simbol dan makna tumpeng dijelaskan dengan rinci melalui bahan makanan dan cara pengolahannya. Seluruh bahan makanan dan cara pengolahannya menggambarkan sifat2 baik dan buruk manusia dan bagaimana mengelola sifat2 tersebut. Sungguh suatu pesan yang mengagumkan dan bermakna sangat mendalam bagi arsitek lanskap yang harus selalu berorientasi kepada manusia, karena tugas dan tanggungjawab profesinya bergelut dengan perencanaan, perancangan dan pengelolaan ruang luar dan lingkungannya. Harapan2 agar kesejahteraan hidup semakin ‘naik’ dan ‘tinggi’ serta sifat2 buruk manusia seperti sombong, congkak, merasa tahu/benar sendiri, tidak setia, maupun sifat2 baiknya seperti ketabahan, keuletan, kebersamaan dan kerukunan dimaknai dalam setiap jenis bahan dan pengolahan nasi tumpeng.

Salah satu contoh adalah telur yang harus disajikan utuh bersama kulitnya dan oleh karenanya harus direbus pindang sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang Jawa mengajarkan ‘tata, titi, titis, dan tatas’ yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Betapa mendalamnya makna silaturahmi dengan Bapak DJEKMDI untuk arsitek lanskap Indonesia bahkan ketika sampai pada saat mengajak makan siang bersama. Tumpeng dipotong oleh beliau dan menanyakan siapa di antara yang hadir yang termuda usianya. Ibu Mariana memperoleh ujung tumpeng dari Bapak DJEKMDI karena termuda di antara yang hadir. Pertanyaan muncul mengapa bukan yang tertua mendapat kehormatan tersebut. Sekali lagi Bapak DJEKMDI menjawab dengan bijak : yang tua dapat melakukannya sendiri … Beliau menambahkan pula : yang pasti mereka yang tua pernah muda namun yang muda pasti belum pernah tua. Sungguh satu jawaban penuh canda yang sangat bermakna!

Silaturahmi selesai dengan berfoto bersama sambil mengacungkan jari2 tangan kita menggambarkan huruf ‘K’ yang artinya ‘kreatif.’ Sangat tepat sekali dengan profesi arsitek lanskap yang harus selalu kreatif dalam menjembatani penciptaan lingkungan harmonis dari lanskap alam dan budaya Indonesia yang memiliki keberagaman sangat tinggi.

Silaturahmi dengan Bapak DJ EKMDI sangat mengesankan. Saya kagum dengan pesan yang sangat mendalam dari Bapak DJEKMDI menghadapi Indonesia sebagai tuan rumah 2015 IFLA APR Congress. Pertanyaan muncul dalam diri saya, mampukah seluruh arsitek lanskap Indonesia memahami ‘local wisdom’ yang disampaikan oleh Bapak DJEKMDI. Sanggupkah bersatu dan secara profesional membangun negeri ini menghadapi perubahan2 dunia yang terus bergulir dengan cepat? Tantangan2 di luar sana semakin besar. Masa depan profesi ada di tangan kita, kecuali kalau kita akan merelakan yang di luar sana menebas jalan kita …

Salam,
S. Sekartjakrarini
Delegate ISLA to IFLA
Ketua Bidang Luar Negeri PN IALI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *