Mengenal Lebih Jauh Tentang Taman Jepang

Taman Jepang sengaja dirancang asimetris agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat berada di tengah. Dalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus atau simetris.
Secara garis besar, Taman Jepang mengenal dua ekstremitas: sakral dan profan. Di halaman bangunan sakral seperti kuil Shinto, kuil Buddha, dan istana kaisar hanya disebar pasir dan kerikil. Salah satu contohnya adalah halaman Kuil Ise. Sebaliknya, taman yang dilengkapi kolam besar dan ditanami pepohonan, perdu, serta tanaman bunga dibangun di halaman bangunan yang dimaksudkan sebagai tempat memuaskan estetika keduniawian, misalnya rumah peristirahatan dan kediaman resmi. Taman seperti ini diperindah dengan dekorasi seperti batu-batuan, lentera batu, dan gazebo. Berada di tengah-tengahnya antara sakral dan profan adalah taman yang menggabungkan nilai-nilai sakral dan estetika profan, misalnya Vila Kekaisaran Katsura di Kyoto.

Taman Jepang berukuran besar dilengkapi dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan bangunan pemujaan (kuil). Di antara gedung dan taman kadang-kadang dibangun ruang transisi berupa beranda sebagai tempat orang duduk-duduk. Dari beranda, pengunjung dapat menikmati keindahan taman dari kejauhan.

Tidak semua taman Jepang dirancang untuk dimasuki atau diinjak orang. Sejumlah taman dimaksudkan untuk dipandang dari kejauhan seperti dari dalam gedung atau beranda. Di taman yang dibangun untuk dipandang dari jauh, orang dapat melihat secara sekaligus semua elemen yang ada di dalam taman.

Taman Jepang mengenal permainan perspektif sebagai salah satu teknik untuk membuat taman terlihat lebih besar dari luas sebenarnya. Teknik pertama dari beberapa teknik yang biasa digunakan adalah penciptaan ilusi jarak. Taman akan terlihat lebih luas bila di latar depan diletakkan batu-batuan dan pepohonan yang lebih besar daripada batu-batuan dan pepohonan di latar belakang. Dalam teknik kedua berupa “tersembunyi dari penglihatan” (miegakure), tidak semua pemandangan di dalam taman dapat dilihat sekaligus. Tanaman, pagar, dan bangunan digunakan untuk menghalangi pandangan isi taman seperti air terjun, lentera batu, dan gazebo. Orang harus berjalan masuk sebelum dapat melihat isi taman. Dalam teknik ketiga yang disebut lanskap pinjaman (shakkei), pemandangan taman meminjam pemandangan alam di latar belakang seperti pegunungan, sungai, atau hutan yang berada di kejauhan. Bangunan seperti istana di luar taman juga dapat dijadikan bagian integral dari taman.

SEJARAH TAMAN JEPANG

Dalam bahasa Jepang, istilah taman (teien) terdiri dari dua aksara kanji, niwa dan sono. Istilah niwa mengacu kepada lahan berkerikil untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan upacara keagamaan, dan sono mengacu kepada lahan pertanian dan sawah berpengairan. Orang zaman Jōmon menamakan lahan tempat mereka melakukan kegiatan, upacara keagamaan, dan mengumpulkan makanan sebagai niwa. Benda-benda yang ada di lahan tersebut, seperti pohon, batu besar, air terjun, dan kerikil di pantai sering kali dipercaya sebagai benda sakral yang dihuni oleh arwah suci. Pasir, kerikil, atau batu dipakai untuk menandai tanah yang dipercaya sebagai tempat sakral untuk berdoa. Batu-batu di laut dan gunung dipercaya dihuni atau digunakan kami ketika turun dari langit (iwakura). Susunan batu digunakan untuk menandai tempat suci (altar) yang disebut iwasaka.

Naskah tertua yang menyebutkan tentang niwa adalah Manyōshū yang mengaitkan niwa dengan laut luas dan tempat orang memancing. Setelah orang Jepang mengenal cara bertani, niwa berarti halaman di depan rumah untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Setelah teknik pertanian dikenal orang zaman Yayoi, kata sono dipakai untuk menyebut lahan beririgasi yang ditanami padi.
Elemen dasar, prinsip, dan tema-tema untuk taman sudah dikenal orang Jepang sejak zaman Heian. Buku-buku klasik mengenai pertamanan hingga kini masih dijadikan pedoman sewaktu membangun taman Jepang. Buku pertamanan tertua di Jepang adalah Sakuteiki (Catatan Membuat Taman) yang ditulis pada pertengahan zaman Heian. Pengarangnya diperkirakan bernama Tachibana no Toshitsuna. Dalam Sakuteiki, prinsip-prinsip pertamanan dari Cina disesuaikan dengan estetika dan kondisi alam di Jepang. Konsep-konsep dalam Sakuteiki antara lain diterapkan di taman lumut Saihō-ji di Kyoto. Tidak seperti halnya buku pertamanan dari zaman sesudahnya, Sakuteiki hanya berisi teks dan tidak dilengkapi ilustrasi. Di antara buku pedoman pertamanan dari zaman yang lebih modern terdapat buku yang diperkirakan ditulis tahun 1466, Sanzui Narabi ni Nogata no Zu (Ilustrasi untuk Merancang Lanskap Gunung dan Air) dan Tsukiyama Teizōden (Catatan Pembangunan Taman Bukit Buatan) terbitan tahun 1735. Tsukiyama Teizōden disusun dari buku pertamanan yang lebih awal, termasuk Tsukiyama Sansuiden (Catatan Bukit Buatan, Gunung dan Air) dan Sanzui Narabi ni Nogata no Zu.

Sepanjang zaman Nara, pengaruh budaya Cina diterima Jepang dari Dinasti Tang, termasuk di bidang arsitektur dan pertamanan. Dari ajaran Taoisme, orang Jepang mengenal legenda orang bijak bernama Sennin (Xian). Sennin konon hidup abadi dan tinggal di seberang lautan di Gunung Hōrai (Gunung Penglai). Sejak zaman Kamakura, di berbagai tempat di Jepang dibangun taman dengan pulau kecil di tengah-tengah kolam. Pulau-pulau kecil tersebut dinamakan pulau burung jenjang (tsurujima) dan pulau kura-kura (kamejima). Pulau kecil di tengah kolam merupakan lambang pulau tempat tinggal Sennin, sekaligus bentuk harapan umur panjang dan hidup abadi. Di atas pulau kecil tersebut ditanam pohon tusam yang melambangkan umur panjang karena daunnya selalu hijau sepanjang tahun.

Pada zaman Muromachi, biksu Zen membangun taman dari batu, pasir, dan kerikil (karesansui) yang mencerminkan konsep Zen mengenai disiplin, mawas diri, dan pencerahan. Taman batu Zen dimaksudkan untuk meditasi, dan biasanya dibangun di sebelah selatan kuil. Hamparan pasir dan kerikil diatur dengan penggaruk bambu untuk membuat berbagai macam pola air seperti ombak, pusaran air, dan riak air.
Taman dan gedung mewah yang terlihat agung dan mencolok merupakan ciri khas arsitektur zaman Azuchi-Momoyama. Sebagai reaksi dari kemewahan tersebut tercipta kesederhanaan dalam seni minum teh dan taman rumah teh (roji).

TEMA

Walaupun elemen-elemen dasar dan prinsip yang mendasari desain taman dapat berbeda-beda, tema-tema tertentu dapat dijumpai di berbagai jenis taman, misalnya pulau kecil (disebut Hōraijima atau Pulau Hōrai) yang dibangun di tengah-tengah kolam. Di atas pulau kecil tersebut kadang-kadang diletakkan diletakkan sebuah batu besar yang melambangkan Sumeru dalam kosmologi Buddha atau Gunung Hōrai dalam Taoisme. Sebagai lambang utopia atau “tanah kebahagiaan”, pulau kecil di taman tidak untuk dimasuki orang. Antara pulau dan bagian taman yang lain sengaja tidak dibangun jembatan.
Tema-tema lain yang umum adalah kombinasi dari elemen-elemen dasar seperti batu-batu, pulau kecil, dan pepohonan untuk melambangkan kura-kura dan burung jenjang yang keduanya merupakan lambang umur panjang di Jepang. Pulau kecil di tengah kolam dibangun seperti bentuk kura-kura atau diletakkan batu yang melambangkan kura-kura di tepian. Tema lain yang populer adalah Gunung Fuji atau miniatur lanskap-lanskap terkenal di Jepang.

ELEMEN DASAR TAMAN JEPANG
Air : Elemen dasar dalam taman Jepang adalah air, batu, dan tanaman. Selain sebagai sumber kehidupan, air digunakan untuk menyucikan benda dari dunia profan sebelum memasuki kawasan sakral. Air dialirkan dari sungai untuk membuat kolam dan air terjun.

Tanaman : Bertolak belakang dari batu yang melambangkan keabadian, pohon, perdu, bambu, rumpun bambu, lumut, dan rumput adalah benda hidup yang tumbuh seiring dengan musim sebelum menjadi tua dan mati. Bertolak belakang dengan taman gaya Eropa yang berfokus pada warna-warni semak dan bunga, taman di kuil Zen hanya berupa hamparan pasir. Taman rumah teh hanya menggunakan tanaman berdaun hijau dan pohon maple yang daunnya menjadi merah di musim gugur.
Perbedaan antara lereng gunung, padang rumput, dan lembah dinyatakan dalam pemakaian berbagai macam spesies pohon dan perdu yang dipotong dan dipangkas hingga menyerupai berbagai bentuk. Pohon dan perdu juga dipakai sebagai penghubung antardua lokasi pemandangan di dalam taman. Bukit-bukit buatan dibangun dari gundukan tanah.

Batu : Batu-batu disusun untuk menyerupai bentuk-bentuk alam seperti pegunungan, air terjun, dan pemandangan laut, dan dipilih berdasarkan bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Batu adalah elemen terpenting dalam taman karena dapat dipakai untuk melambangkan pegunungan, garis pantai, dan air terjun. Di taman yang memiliki pulau kura-kura dan pulau burung jenjang di tengah kolam, batu-batu diletakkan untuk memberi kesan adanya kepala dan ekor.
Batu-batu berukuran sedang digunakan sebagai batu pijakan (tobiishi, arti harfiah batu loncatan) yang dipasang bersela-sela di jalan setapak. Batu-batu yang menutup jalan setapak disebut batu ubin (shikiishi). Ketika berjalan di atasnya saat hari hujan, pakaian dan alas kaki akan terhindar dari percikan air, tanah, dan lumpur.

Di taman batu Jepang, hamparan pasir dan kerikil diratakan dengan penggaruk menjadi pola-pola yang melambangkan benda yang mengalir seperti awan dan arus air. Butiran pasir dan kerikil yang dipakai tidak berukuran terlalu halus karena mudah diterbangkan angin atau dihanyutkan oleh air hujan. Sebaliknya, butiran pasir dan kerikil yang berukuran terlalu besar akan sulit ditata dengan penggaruk. Pemilihan pasir dan kerikil juga mempertimbangkan warna. Pasir berwarna putih memberi kesan murni dan cemerlang di bawah sinar matahari, sedangkan pasir berwarna gelap mengesankan keheningan.

air tmn jpg

Batu untuk taman berasal dari pegunungan, pinggir laut, atau pinggir sungai, dan digolongkan menjadi tiga jenis: batuan sedimen, batuan beku, dan batuan malihan. Batuan sedimen biasanya memiliki permukaan yang halus dan bulat karena terkikis air. Batuan seperti ini dipasang di pinggir kolam dan sebagai batu pijakan di jalan setapak. Batuan beku berasal dari gunung berapi dan biasanya memiliki bentuk dan tekstur yang kasar. Batu seperti ini dipakai sebagai batu pijakan atau sebagai elemen yang menonjol, misalnya diletakkan untuk melambangkan puncak gunung. Batuan malihan adalah batu keras yang biasanya dipasang di sekeliling air terjun atau aliran air. Batu potong dari batuan sedimen juga populer untuk membangun jembatan, wadah batu berisi air, dan lentera batu.

Pagar : Di taman rumah teh dan taman Jepang model kolam di tengah (shisen kaiyū), pagar dan bangunan gerbang merupakan elemen penting dalam lanskap. Pagar secara garis besar terdiri dari pagar hidup (ikigaki) dari tanaman perdu yang dipangkas dan pagar buatan dari kayu atau bambu. Pagar hidup berfungsi sebagai pembatas, penghalang pandangan, pelindung dari angin, api, dan debu, serta penghambat suara. Pagar bambu tembus cahaya (sukashigaki) disusun dari batang-batang bambu yang lebar-lebar jaraknya hingga pemandangan di balik pagar masih terlihat. Sebaliknya, pagar pembatas (shaheigaki) dibangun dari susunan bambu yang rapat dan membatasi pemandangan di baliknya.Di dalam taman tidak digunakan dinding dari tanah yang dikeraskan, kayu, atau batu. Dinding hanya dipakai sebagai dinding luar pembatas taman.

Lentera : Lentera (tōrō) berasal dari tradisi Cina untuk menyumbangkan lentera ke kuil Buddha. Sejak zaman Heian, lentera juga disumbangkan ke kuil Shinto untuk penerangan di malam hari dan sebagai hiasan. Lentera batu mulai dijadikan dekorasi standar di taman rumah teh sejak zaman Muromachi.Setelah menjadi mode di taman-taman rumah teh, lentera batu akhirnya dipasang di berbagai taman Jepang karena keindahan dan kegunaannya.

Wadah Air : Wadah batu berisi air (tsukubai) adalah perlengkapan standar taman rumah teh. Air dari tsukubai dipakai untuk mencuci tangan tamu sebelum mengikuti upacara minum teh. Tradisi menyediakan wadah batu berisi air di taman rumah teh berasal dari tradisi menyediakan wadah batu berisi air dalam agama Buddha dan Shinto. Sebelum berdoa di kuil, orang berkumur dan membersihkan diri dengan air dari wadah batu yang disebut chōzubachi. Wadah batu yang diletakkan di tanah disebut tsukubai chōzubachi (disingkat tsukubai) karena orang yang mengambil air harus berjongkok (tsukubau). Setelah banyak dipasang di taman-taman, tsukubai akhirnya dijadikan perlengkapan standar di taman-taman rumah teh.

wadah air

Selain tsukubai terdapat dua bentuk lain wadah air dari batu. Wadah batu yang memungkinkan orang mengambil air sambil berdiri disebut tachi chōzubachi (chōzubachi berdiri). Wadah air yang diletakkan berdekatan dengan beranda bangunan disebut ensaki chōzubachi (chōzubachi beranda).
Jembatan : Dalam desain taman dengan air sebagai subjek utama, jembatan adalah elemen dasar yang menambah harmoni dalam lanskap. Jembatan juga berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian taman yang dipisahkan oleh air. Di taman batu Jepang, jembatan batu dibangun untuk memberi kesan bahwa di bawah jembatan ada “air” yang mengalir.Di taman gaya Jōdo, jembatan melambangkan jembatan Sungai Sanzu yang harus diseberangi arwah orang yang meninggal untuk sampai ke akhirat. Selain itu, jembatan berfungsi sebagai pemisah, seperti halnya fungsi gerbang tengah (chūmon) di taman teh yang memisahkan taman dalam (kawasan sakral) dan taman luar (kawasan profan).

Daftar Pustaka :
Young, Michiko; Tan Hong Yew (2005). The Art of the Japanese Garden. Tuttle Publishing. ISBN 0-8048-3598-5.
Earle, Joe; Sadao Hibi (2000). Infinite spaces: the art and wisdom of the Japanese garden Gardening Series. Tuttle Publishing. ISBN 0-8048-3259-5.
Wikipedia.org
(Dirangkum oleh Redaksi Iali-Isla.or.id/Okt2013)

Kronologis Pelaksanaan MUNAS 4 di Semarang (Part-3)

Mengingat kondisi yang semakin mendesak dan memburuk, maka diadakan pertemuan 22 Juni 2013, yang dilaksanakan di Oak Tree Urban Hotel untuk kedua kalinya, yang diinisiasi oleh Ir. Togar Sihombing, IALI selaku anggota Dewan Penasehat, mengundang beberapa jajaran IALI baik di tingkat nasional dan daerah. Semua pihak diundang untuk membahas kondisi terkini IALI. Pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir yang harusnya  bisa dimanfaatkan oleh PN IALI untuk melakukan Rembug Nasional. Berharap pertemuan ini jadi ajang untuk membuka ruang untuk saling memahami satu sama lainnya, sehingga tidak ada kekhawatiran bahwa IALI terbelah menjadi dua. Pertemuan ini berlangsung sejak pukul 12.00 WIB, diawali dengan makan siang bersama dan dilanjutkan dengan diskusi pertemuan. Pertemuan ini telah menghasilkan kesamaan dalam pandangan dan pendapat, dimana MALI menjadi pemimpin dalam pelaksanaan MUNAS IV IALI, dengan membentuk OC MUNAS IV IALI 2013 (Ketua : Ir. Ogar Sihombing, IALI) dan SC MUNAS IV IALI (Ketua : Ir. Mirza Julistia, IALI) dan juga sekaligus menyebarkan undangannya kepada para peserta MUNAS sebagaimana diatur dalam AD ART IALI. Pertemuan ini juga berhasil mengumpulkan dana untuk mendanai awal persiapan MUNAS IV IALI, memantapkan MUNAS IV IALI 2013 yang akan dilaksanakan pada 28-30 Juni 2013 di Semarang.

Musyawarah Nasional ke 4 Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia, akhirnya dilaksanakan di Semarang pada tanggal 28-30 Juni 2013. Pada hari pertama dilaksanakan seremonial pembukaan, acara dimulai pada pukul 18.15 WIB didahului dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama sama. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari tuan rumah, Bapak Ir. Heru Puworo, IALI selaku panitia, dan selanjutnya dilaksanakan pembukaan acara MUNAS IV IALI secara resmi oleh Pengurus Daerah  IALI Aceh yang disampaikan oleh Ir. Siti Zulva, MSi., IALI, selanjutnya diikuti dengan pembacaan doa bersama dan photo bersama pada pukul 18.30 WIB.

Sebelum rapat persidangan dibuka, maka dilanjutkan dengan penyampaian pidato Ketua MALI (Bapak Ir. Omar Samuel Ichwan, IALI), dilanjutkan dengan pidato Dewan Penasehat IALI disampaikan oleh Bapak Ir. Bintang A. Nugroho dan diakhiri dengan sambutan dari PN IALI (namun saudara Ketua Umum PN IALI tidak hadir), pidato sambutan dimulai pada pukul 18.35 WIB dan selesai pada pukul 19.10 WIB.

Pada pukul 20.10 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB, Sidang Pleno I dibuka oleh Pimpinan Sidang Sementara (SC) dengan tiga agenda, yaitu pengesahan susunan acara, tatib munas dan pemilihan pimpinan sidang MUNAS IV IALI. Namun acara Pleno pertama dimulai dengan pandangan dari Pengurus Daerah, yang pertama disampaikan oleh PD IALI DKI Jakarta disampaikan oleh Bapak Ir. Bagus Tatang Dewantoro, IALI, yang ke dua disampaikan oleh Ketua PD IALI Jawa Barat, Ir. Dian Heri Sofian, MT, IALI, yang ke tiga disampaikan oleh Ketua PD IALI Banten, Ibu Ir. Etty Ariaty, IALI, yang ke empat disampaikan oleh Ketua PD IALI Jawa Tengah Ir. Heru Puworo, IALI, yang ke lima disampaikan oleh Ketua PD IALI Jawa Timur Ir. Medha Baskara, MT, IALI, yang ke enam disampaikan oleh Ketua PD IALI Aceh, Ir. Siti Zulva, MSi, IALI, yang ketujuh disampaikan oleh Ketua PD Sumatera Utara, Ir. Sukatno, IALI, yang kedelapan oleh Ketua PD IALI Kaltim, Ir. Nazief etek, IALI. Yang ke Sembilan disampaikan oleh Ketua PD IALI Kalimantan Barat, Ir. Tonie Pietersz, IALI dan Kesepuluh disampaikan oleh Ketua PD IALI Sumatera Barat Ir. Azwar Asrol, IALI. Sedangkan ketua PD IALI Riau dan Sulawesi Selatan menyatakan persetujuannya atas pelaksanaan MUNAS dan siap melaksanakan keputusan MUNAS. Sehubungan dengan musim liburan menyebabkan beberapa Daerah lain tidak bisa hadir, dan undangan yang disampaikan oleh OC sudah disebarkan ke semua daftar undangan yang telah ditetapkan sebelumnya. MUNAS akhirnya mencatat semua pendapat dan pandangan yang disampaikan oleh Daerah Daerah dalam rangka membangun kemajuan dalam organisasi dan keprofesian IALI di masa mendatang.

MUNAS IV IALI melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya menolak laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PN IALI periode 2009-2012, Ir. Hengki T. Heksanto karena tidak adanya laporan dan ketidakhadirannya. SC dan OC sudah berusaha menghubungi saudara Ketua Umum Ir. Hengki T. Heksanto dan akhirnya juga terjadilah pembicaraan antara Ketua Umum Ir. Hengki T. Heksanto dengan Bapak Ir. Mirza Julistia, IALI, namun upaya tersebut juga tetap tidak merubah keputusan dimana MUNAS menolak Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum saudara Ir.Hengki T. Heksanto dan pengurus dinyatakan DEMISIONER. MUNAS menerima LPJ MALI dan BSA IALI. Disamping itu,  MUNAS juga akhirnya mengesahkan AD ART IALI dan GBHO, PKN, Isue – isue Strategis dan Rekomendasi organisasi. Semua itu akan menjadi amanat bagi PN IALI terpilih untuk melaksanakannya.

MUNAS IV IALI ini sudah menjadi wadah bagi seluruh Pengurus Daerah untuk menentukan arah kedepan, khususnya tiga tahun kedepan, belajar dari apa yang sudah dilaksanakan sejauh ini oleh IALI dan segala persoalan yang dihadapi oleh masing masing Daerah. Kita berharap Daerah bisa lebih memainkan perannya dalam mengembangkan lansekap dengan menempatkan Arsitek Lansekap di Daerah baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan sebagaimana diatur dalam Undang Undang Jasa Konstruksi. Daerah kedepan menaruh harapan besar kepada PN IALI untuk bisa membuat kebijakan organisasi yang dapat mendorong Daerah Daerah untuk lebih baik lagi dalam pengembagan tugas dan fungsinya.

MUNAS IV IALI akhirnya menetapkan PN IALI periode 2013-2016 yang memimpin pelaksanaan amanat MUNAS IV IALI di Semarang. Pimpinan PN IALI periode 2013-2016  adalah Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA, IALI, Ir. Togar Sihombing, IALI dan Ir. Muzia Evalisa, IALI. Ketiga Arsitek Lansekap ini adalah pilihan yang terbaik untuk IALI bagi tiga tahun kedepan, baik secara Nasional dan Luar Negeri. IALI sebagai organisasi profesi yang sudah menjadi mitra bagi Pemerintah dan Swasta dalam mengisi pembangunan ini agar lebih hijau dan lestari. Semoga Pimpinan PN IALI Presidium periode 2013-2016 dapat menyelesaikan amanat amanat MUNAS dan bisa disampaikan capaiannya dan pertanggung jawabannya pada MUNAS V IALI nanti di Sumatera Barat.

Pada Tanggal 23 Agustus 2013 bertempat di Hotel Kartika Chandra , Pengurus Nasional IALI 2013-2016 dilantik oleh MALI sebagai bentuk dari kepatuhan untuk melaksanakan amanat MUNAS IV IALI di Semarang dan ketentuan dalam AD ART IALI. Pelantikan  dihadiri oleh Pengurus Daerah IALI, MALI, JAKI, Pemerintah, Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Pelantikan ini menjadi awal bagi PN IALI untuk bisa melaksanakan tugas dan fungsinya, agar bisa berjalan dengan sebaik baiknya. Pengurus PN IALI yang dilantik sesuai dengan SK yang diterbitkan oleh PN IALI periode 2013-2016 dengan susunan pengurus, Ketua Umum Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA, IALI dan Sekjen Ir. Khairul Tanjung, IALI. Bendahara Umum Ir. Etty Ariaty, IALI, WaBendum Ir. Erita Laksita, IALI dan WaSekjen Andra B. Karim. Wakil Ketua Umum 1 Ir. Togar Sihombing, IALI dan Wakil Ketua Umum 2 Ir. Muzia Evalisa, IALI. Ketua Bidang Luar Negeri Ir. Soehartini Sekartjakrarini, PhD, dan Wakil Ketuanya Ir. Ditri Kemala Rezki. Ketua Bidang Dalam Negeri Ir. Anggia Murni, IALI dan Wakil Ketua Ir. Andrianto Kusumoarto, MS. Ketua Bidang Pendidikan dan Keprofesian Dr. Ir. Nurhayati Arifin, MS, Wakil Ketua Dr. Ir. Nizar Nasrullah, Magr. Ketua Bidang Litbang Dr.Ir.Alinda FM. Zain, MS dan Wakil Ketua Ir. Suci Widianingrum, ST, MT.

Pengurus Nasional IALI 2013-2016 ini telah berhasil menyelenggarakan RAKERNAS di Ciapus, Bogor pada tanggal 21-22 September 2013 yang dihadiri oleh PN IALI, MALI dan delapan pengurus daerah, sedangkan PD IALI lainnya memberikan dukungan tertulis kepada RAKERNAS tersebut. Pengurus Nasional IALI 2013-2016 terus bergerak menegakkan aturan organisasi IALI disetiap kegiatannya dan membenahi performance IALI baik kedalam atau keluar organisasi dengan sebaik baiknya. PN IALI bertekad untuk membangun trilogi lestari dan matrik 3/3, agar IALI menjadi lebih baik. Mari kita bersama merapatkan barisan, bersama-sama memajukan profesionalitas anggota dan mendorong eksistensi organisasi IALI didalam maupun diluar negeri.  (Sumber : Redaksi Iali-Isla.or.id/Okt2013. Untuk kepentingan klarifikasi surat menyurat organisasi tentang MUNAS 4 Semarang bisa menghubungi Sekjen PN IALI 2013-2016).

Kronologis Pelaksanaan MUNAS 4 di Semarang (Part-2)

Pada tanggal 7 Juni 2013 ini tidak ada kegiatan pertemuan yang dilakukan oleh SC dan juga jajaran IALI lainnya. Artinya penetapan MUNAS IV IALI pada tanggal 5-7 Juni tidak direspon oleh PN IALI dan OC, karena pada tanggal 4 Juni 2013, PN IALI sudah membatalkan MUNAS dengan cara mengirimkan surat ke daerah daerah dan juga berkomunikasi ke daerah daerah soal pembatalan MUNAS pada tanggal 5-7 Juni 2013, pembatalan itu dilakukan sepihak oleh Ketua Umum PN IALI karena tidak mendapat persetujuan oleh SC MUNAS IV IALI, namun pembatalan itu tetap saja dilaksanakan dan dikirimkan ke daerah daerah oleh PN IALI dan OC MUNAS, ini sungguh sangat disesalkan, karena sesungguhnya pembatalan MUNAS tidak sesuai dengan SK Panitia yang dibuat oleh PN IALI. Pembatalan ini, menjadikan situasi dan pekembangan organisasi IALI dalam keadaan luar biasa sebagaimana diatur dalam AD ART IALI. Pembatalan tersebut merupakan bentuk tidak konsistennya PN IALI dan OC dalam melaksanakan MUNAS secara bertanggungjawab dan murni sesuai dengan semangat dan tema MUNAS IV IALI. Pembatalan tersebut sudah menyebabkan kejanggalan dan kerugian banyak pihak, bukan saja panitia MUNAS di Semarang dan juga PD PD IALI, juga kepada mitra dan stakeholder IALI. Pembatalan ini menyebabakan banyak kegundahan dan kebingungan serta tandatanya, sedangkan waktu terus bergulir dan berjalan.

Pertemuan 7-8 Juni 2013, yang dilaksanakan di Oak Tree Urban Hotel, Jaksel, telah membuka ruang bagi daerah yang ada di Jakarta untuk melanjutkan pertemuan untuk mensikapi situasi terkini tentang pelaksanaan MUNAS dan kondisi IALI. Pertemuan dimulai pada tanggal 7 Juni 2013 malam, kemudian pertemuan dilaksanakan dengan adanya pandangan pandangan umum dari setiap peserta yang dihadir dan dipimpin oleh saudara Ir. Bintang, berlanjut sampai pukul 24 WIB. Selanjutnya pertemuan dilanjutkan besoknya pada tanggal 8 Juni 2013, di ruangan meeting, pertemuan berjalan dari siang sampai dengan malam hari, akhirnya membuahkan beberapa kesepakatan diantaranya ; (1) MUNAS IV IALI dilaksanakan pada tanggal 21-23 Juni 2013, (2) SC tetap bertugas sampai ke MUNAS (3) Penyelenggaraan MUNAS dipimpin oleh saudara Ir. Heru Puworo, (4) yang hadir berhak jadi peserta utusan (5) pembiayaan MUNAS membaginya secara bersama sama (6) Kerugian akibat pembatalan MUNAS menjadi tanggung jawab OC, (7) Mengutus saudara Ir. Bintang A. Nugroho, Ir. Heru Puworo dan Ir. Khairul Tanjung menghadap ke saudara Ketua Umum PN IALI Ir. Hengki T. Heksanto. Pertemuan dengan ketua umum PN IALI ini diatur oleh Ir. Bintang A. Nugroho , namun disayangkan tidak berjalan dengan baik. Menurut pengakuan Ir. Bintang A. Nugroho, bahwa saudara Ir. Khairul Tanjung ditolak kehadirannya oleh ketua umum PN IALI dengan alasan yang tidak jelas. Disayangkan sikap tersebut terjadi, hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dan tanda tanya, padahal langkah pertemuan ini semata adalah untuk kepentingan organisasi.

Pada tanggal 17 Juni 2013, MALI menerbitkan surat keputusan nomor : 002/SKEP/MUNAS IALI/VI/2013, bahwa MUNAS IV IALI 2013 harus dilaksanakan pada bulan Juni 2013 ini, untuk menghindari dampak negatif dari penundaan MUNAS, karena MUNAS adalah pengambil keputusan tertinggi, menunda MUNAS berarti menunda keputusan penting dalam organisasi. Keputusan ini diambil untuk meningkatkan capacity building. Surat Keputusan MALI ditanda tangani oleh Ketua Bapak Ir. Omar S. Ichwan, IALI, lalu Sekretaris Ir. Lola MAdjid, IALI dan Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA, IALI sebagai anggota MALI.

Pada tanggal 17 Juni siangnya PN IALI Ir. Hengki T. Heksanto mengadakan rapat untuk menjelaskan pembubaran OC dan SC MUNAS IV IALI 2013. Bebarapa tanggapan dan pandangan atas peristiwa 17 Juni 2013 ini sudah disampaikan dalam email.

Kita berharap tentunya keputusan MALI menjadi keputusan tertinggi dalam organisasi IALI dan bisa dilaksanakan oleh seluruh jajaran organisasi di bawahnya. SK MALI ini tentunya menjadi final putusan agar MUNAS IV IALI 2013 dilaksanakan pada bulan Juni 2013, dan ini bisa berjalan dengan baik dan sukses. Disayangkan PN IALI tidak melaksanakan SK MALI tersebut agar MUNAS IV IALI dilaksanakan pada bulan Juni 2013 ini di Semarang. PN IALI malah bersikap tidak patuh dan taat dengan keputusan MALI, hal ini menyebabkan kondisi organisasi IALI semakin memburuk. 

Kronologis Pelaksanaan MUNAS 4 di Semarang (Part-1)

Pada tanggal 13 Oktober 2012, bertempat di Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat diadakan Musyawarah Nasional Khusus (MUNASUS) pertama kali diadakan selama sejarah berdirinya IALI. MUNASUS ditujukan untuk mengesahkan AD ART IALI yang tertunda dalam MUNAS III di Bogordan juga memberikan tambahan waktu/masa kepengurusan kepada Ketua Umum PN IALI, saudara Ir.Hengki T. Heksanto beserta jajarannya agar bisa fokus untuk menyiapkan MUNAS dengan baik selambat lambatnya sampai pada bulan akhir Maret 2013. Keputusan MUNASUS dibuat dan ditanda tangani oleh 3 orang pimpinan sidang, saudara Ir. Nazief Etek, IALI, saudara Ir. KhairulTanjung, IALI dan saudara Ir. Mirzah Julistia, IALI.  MUNASUS ini walau pertama kali, tapi sudah bisa membuat keputusan besar dalam organisasi.

Pada tanggal 29 Januari 2013, saudara Ketua Umum PN IALI menerbitkan Surat Keputusan tentang pembentukan panitia pelaksana dan pengarah MUNAS IV IALI 2013. Surat Keputusan  4 lembar tersebut ditandatangani oleh saudara Ir. Hengki Triyoga Heksanto, IALI (ketum) dan Ir. Yovialina Taruna,IALI (sekjen). Surat Keputusan ditembuskan kepada Majelis Arsitek Lansekap Indonesia, Badan Sertifikasi Keahlian IALI, Badan sertifikasi Keterampilan IALI, Unit Layanan Sertifikasi Profesi dan Pengurus Daerah di seluruh Indonesia. Panitia Steering Committee (SC) MUNAS IV IALI diketuai Dr.Ir.Rustam Hakim Manan, MT, IALI dan sekretaris SC saudara Ir. Khairul Tanjung, IALI dengan lima anggota SC. sedangkan Panitia Organizing Committee (OC) yang dikomandoi oleh saudara Ir. Mariana Harahap, MBA, IALI dan Ir. Heru Puworo selaku wakil panitia dengan didukung oleh 34 orang lainnya, agar MUNAS benar benar maksimal dan sukses.  

Selama bulan Februari, Maret, April dan Mei sudah dilakukan beberapa kali rapat SC untuk menyiapkan draft materi materi MUNAS, terhitung rapat pada tanggal 1 Maret 2013, 15 Maret 2013 dan 22 Maret 2013, 23 April 2013, 3 Mei 2013, 6 Mei 2013 dan 15 Mei 2013, lalu pada 4 juni 2013. Total  sudah dilakukan sekitar 8-10 kali rapat SC agar bisa menghasilkan buku panduan MUNAS. Selama rapat sudah dua kali pemunduran waktu MUNAS dan tanggal 5-7 juni 2013 merupakan tanggal terakhir yang ditetapkan oleh SC dan  MUNAS IV IALI harus dilaksanakan di Semarang sebagai bentuk ketaatan kepada hasil MUNAS III di Bogor pada tahun 2009. Dari beberapa kali rapat, memang pada beberapa hal sulit untuk menyamakan pendapat dan pandangan soal MUNAS IV IALI.

Pada tanggal 4 Juni 2013, SC MUNAS IV IALI mengadakan rapat di Gedung JDC lantai 7, mengingat pelaksanaan MUNAS yang semakin dekat, yakni pada tanggal 5-7 Juni 2013. Sebelumnya ketua SC menerima surat email dari Ketua OC, yang meminta agar waktu MUNAS IV IALI dimundurkan, dan pada tanggal 2 Juni 2013 saudara Sekretaris SC menerima surat email dari OC soal hal yang sama, karena beberapa alasan, lalu Ketua  SC tidak bisa langsung menjawab surat email tersebut, dan Ketua SC mengadakan rapat pada tanggal 4 Juni 2013, rapat dihadiri oleh 4 orang, dimulai pada pukul 14.00 WIB dan selesai pada pukul 17.00 WIB. Rapat mengeluarkan hasil rapat yang dituang dalam surat nomor 002a/HR/SC/SC MUNAS IV/IALI/VI/2013, nomor 003a dan nomor 004a yang berisi 4 point hasil rapat, yang pada intinya menolak usulan pemunduran waktu munas yang diajukan oleh OC dan bila tidak dilaksanakan juga sesuai waktu yang ditetapkan SC , maka SC mengundurkan diri dari SC MUNAS IV IALI.  Artinya SC membubarkan diri dan semuanya diserahkan kepada mekanisme yang berlaku dalam AD ART IALI. Surat ini ditujukan kepada OC, PN IALI dan MALIdan dikirimkan via email.

Pertemuan 4 Juni 2013, malam yang diinisiasi oleh Ketua Dewan Penasehat IALI, semua pihak yang tekait dengan MUNAS IV IALI  Semarang diundangan untuk ikut pertemuan di Flora Garden Cafe, Jakarta Selatan. Pertemuan ini diharapkan untuk silahturahmi dan saling menyampaikan pandangan terkait dengan penyelenggaraan MUNAS. Pertemuan ini dihadiri oleh Ir. Abas Sudarmoko, Ir. Omar S. Ichwan, Ir. Sumiantono Rahardjo, Ir. Tri/ Ir. Ade, Ir. Yovie, Ir. Yudi, Ir. Sukatno, Ir. Siti Zulva, Ir. Aznil, Ir. Bagus Tatang, Ir. Nazief, Ir. Khairul, Ir. Bambang, Ir. Huda, Ir. Bintang dan Ir. Togar.

Pertemuan ini mengeluarkan pernyataan atas penundaan pelaksanaan waktu MUNAS IV IALI yang baru diumumkan satu hari sebelum pelaksanaan MUNAS. dan Pertemuan itu mendukung keputusan yang dibuat SC MUNAS tertanggal 4 Juni 2013. Juga mendukung dan meminta MALI untuk segera menentukan sikap tentang MUNAS IV IALI  Semarang. Karena besoknya rencana MUNAS, maka PD IALI yang sudah hadir di Jakarta adalah PD IALI Aceh, PD IALI Sumut dan PD IALI Riau.  PD inilah yang ikut hadir bersama undangan rapat informal di Flora Garden Café. Sangat disayangkan Ketua PN IALI, Ketua OC dan Ketua SC MUNAS IV IALI diundang untuk hadir dan membicarakan bersama-sama kondisi IALI yang berkembang, namun mereka tidak hadir dalam pertemuan tersebut dan malah sebaliknya,  menyalahkan dan menyayangkan pertemuan di Flora Café Pancoran tersebut yang diundang oleh Ketua Dewan Penasehat IALI, padahal pertemuan ini bisa jadi ajang silahturahmi dan bertatap muka untuk membicarakan kondisi terkini IALI. Kawan-kawan PD IALI yang sudah datang di Jakarta tersebut tidak dilayani dengan baik oleh PN IALI, tidak ada komunikasi dan tidak ada upaya untuk bertemu, mereka dibiarkan begitu saja, dan kawan kawan merasa agak kecewa dengan sikap PN IALI seperti itu, termasuk ketua OC dan ketua SC nya. Dan juga disayangkan bahwa upaya untuk melaksanakan MUNAS pada tanggal 5-7 Juni 2013 yang ditekankan oleh Ketua SC agar dilaksanakan, namun itu tidak terbukti dan inilah menjadi saat saat bersejarah bagi IALI, karena pada tanggal 4 Juni 2013 inilah awalnya IALI terbelah dua. Kondisi dua kelompok mulai memburuk dan terasa tidak kondusif.

Pada tanggal 7 Juni 2013, SC MUNAS IV IALI menerbitkan surat email kepada Ketua Pelaksana MUNAS IV IALI 2013 dan surat tersebut ditembuskan kepada PN IALI dan MALI. Surat SC tanggal 7 Juni 2013 ini dengan nomor 005a/SP/SC MUNAS IALI/VI/2013 ini ditandatangani oleh Ketua SC dan Sekretaris SC. Surat tersebut merupakan tindak lanjut surat Panitia Pengarah MUNAS IV IALI tertanggal 4 Juni 2013.