Category Archives: Berita Seputar IALI

Musda PD IALI Jakarta, 21 Juli 2014

Musyawarah Daerah PD IALI Jakarta di IALI Center Jakarta telah dilaksanakan pada tanggal 21 juli 2014.  Pada Musda kali ini telah terjadi serahterima jabatan ketua PD IALI Jakarta dari bapak Ir. Bagus Tatang Dewantoro (2007-2014) kepada ketua terpilih PD IALI Jakarta ibu Ir. Erita Adya Laksita.

Selain itu dilaksanakan juga DISKUSI PROFESI dengan tema Peran dan Kiprah IALI dalam Pembangunan DKI Jakarta, dengan pembicara : Ibu Ir. Daisy Radnawati MSi. (aspek pendidikan Arsitektur lansekap/kaprodi ARL ISTN), Bapak Syaiful M. Anwar (Pengenalan produk lansekap ), Ibu Ir. Muzia Evalisa (aspek kontraktor/jasa konstruksi/PT. Bougainvillea) dan Ibu Ir. Lola Madjid MBA (aspek Sertifikasi Profesi). Moderator : Bapak Ir. Bagus Tatang Dewantoro.

Hadir pada acara tersebut rekan-rekan anggota IALI Jakarta, Pengurus Nasional IALI, MALI, perwakilan dari pihak Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta,  perwakilan dari berbagai universitas di Jakarta dan relasi / rekan kerja profesi dari berbagai bidang.

Selamat bekerja kepada pengurus PD IALI Jakarta terpilih, dan kepada anggota PD IALI Jakarta diharapkan segera meregristrasi keanggotaan kepada pengurus yang baru. (iali-isla.or.id/suci)

ikj2 ikj3 ikj4

ikj5

ikj6

ikj16 ikj10 ikj13 ikj12 ikj11

 

Mengenal Lebih Jauh Tentang Taman Jepang

Taman Jepang sengaja dirancang asimetris agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat berada di tengah. Dalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus atau simetris.
Secara garis besar, Taman Jepang mengenal dua ekstremitas: sakral dan profan. Di halaman bangunan sakral seperti kuil Shinto, kuil Buddha, dan istana kaisar hanya disebar pasir dan kerikil. Salah satu contohnya adalah halaman Kuil Ise. Sebaliknya, taman yang dilengkapi kolam besar dan ditanami pepohonan, perdu, serta tanaman bunga dibangun di halaman bangunan yang dimaksudkan sebagai tempat memuaskan estetika keduniawian, misalnya rumah peristirahatan dan kediaman resmi. Taman seperti ini diperindah dengan dekorasi seperti batu-batuan, lentera batu, dan gazebo. Berada di tengah-tengahnya antara sakral dan profan adalah taman yang menggabungkan nilai-nilai sakral dan estetika profan, misalnya Vila Kekaisaran Katsura di Kyoto.

Taman Jepang berukuran besar dilengkapi dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan bangunan pemujaan (kuil). Di antara gedung dan taman kadang-kadang dibangun ruang transisi berupa beranda sebagai tempat orang duduk-duduk. Dari beranda, pengunjung dapat menikmati keindahan taman dari kejauhan.

Tidak semua taman Jepang dirancang untuk dimasuki atau diinjak orang. Sejumlah taman dimaksudkan untuk dipandang dari kejauhan seperti dari dalam gedung atau beranda. Di taman yang dibangun untuk dipandang dari jauh, orang dapat melihat secara sekaligus semua elemen yang ada di dalam taman.

Taman Jepang mengenal permainan perspektif sebagai salah satu teknik untuk membuat taman terlihat lebih besar dari luas sebenarnya. Teknik pertama dari beberapa teknik yang biasa digunakan adalah penciptaan ilusi jarak. Taman akan terlihat lebih luas bila di latar depan diletakkan batu-batuan dan pepohonan yang lebih besar daripada batu-batuan dan pepohonan di latar belakang. Dalam teknik kedua berupa “tersembunyi dari penglihatan” (miegakure), tidak semua pemandangan di dalam taman dapat dilihat sekaligus. Tanaman, pagar, dan bangunan digunakan untuk menghalangi pandangan isi taman seperti air terjun, lentera batu, dan gazebo. Orang harus berjalan masuk sebelum dapat melihat isi taman. Dalam teknik ketiga yang disebut lanskap pinjaman (shakkei), pemandangan taman meminjam pemandangan alam di latar belakang seperti pegunungan, sungai, atau hutan yang berada di kejauhan. Bangunan seperti istana di luar taman juga dapat dijadikan bagian integral dari taman.

SEJARAH TAMAN JEPANG

Dalam bahasa Jepang, istilah taman (teien) terdiri dari dua aksara kanji, niwa dan sono. Istilah niwa mengacu kepada lahan berkerikil untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan upacara keagamaan, dan sono mengacu kepada lahan pertanian dan sawah berpengairan. Orang zaman Jōmon menamakan lahan tempat mereka melakukan kegiatan, upacara keagamaan, dan mengumpulkan makanan sebagai niwa. Benda-benda yang ada di lahan tersebut, seperti pohon, batu besar, air terjun, dan kerikil di pantai sering kali dipercaya sebagai benda sakral yang dihuni oleh arwah suci. Pasir, kerikil, atau batu dipakai untuk menandai tanah yang dipercaya sebagai tempat sakral untuk berdoa. Batu-batu di laut dan gunung dipercaya dihuni atau digunakan kami ketika turun dari langit (iwakura). Susunan batu digunakan untuk menandai tempat suci (altar) yang disebut iwasaka.

Naskah tertua yang menyebutkan tentang niwa adalah Manyōshū yang mengaitkan niwa dengan laut luas dan tempat orang memancing. Setelah orang Jepang mengenal cara bertani, niwa berarti halaman di depan rumah untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Setelah teknik pertanian dikenal orang zaman Yayoi, kata sono dipakai untuk menyebut lahan beririgasi yang ditanami padi.
Elemen dasar, prinsip, dan tema-tema untuk taman sudah dikenal orang Jepang sejak zaman Heian. Buku-buku klasik mengenai pertamanan hingga kini masih dijadikan pedoman sewaktu membangun taman Jepang. Buku pertamanan tertua di Jepang adalah Sakuteiki (Catatan Membuat Taman) yang ditulis pada pertengahan zaman Heian. Pengarangnya diperkirakan bernama Tachibana no Toshitsuna. Dalam Sakuteiki, prinsip-prinsip pertamanan dari Cina disesuaikan dengan estetika dan kondisi alam di Jepang. Konsep-konsep dalam Sakuteiki antara lain diterapkan di taman lumut Saihō-ji di Kyoto. Tidak seperti halnya buku pertamanan dari zaman sesudahnya, Sakuteiki hanya berisi teks dan tidak dilengkapi ilustrasi. Di antara buku pedoman pertamanan dari zaman yang lebih modern terdapat buku yang diperkirakan ditulis tahun 1466, Sanzui Narabi ni Nogata no Zu (Ilustrasi untuk Merancang Lanskap Gunung dan Air) dan Tsukiyama Teizōden (Catatan Pembangunan Taman Bukit Buatan) terbitan tahun 1735. Tsukiyama Teizōden disusun dari buku pertamanan yang lebih awal, termasuk Tsukiyama Sansuiden (Catatan Bukit Buatan, Gunung dan Air) dan Sanzui Narabi ni Nogata no Zu.

Sepanjang zaman Nara, pengaruh budaya Cina diterima Jepang dari Dinasti Tang, termasuk di bidang arsitektur dan pertamanan. Dari ajaran Taoisme, orang Jepang mengenal legenda orang bijak bernama Sennin (Xian). Sennin konon hidup abadi dan tinggal di seberang lautan di Gunung Hōrai (Gunung Penglai). Sejak zaman Kamakura, di berbagai tempat di Jepang dibangun taman dengan pulau kecil di tengah-tengah kolam. Pulau-pulau kecil tersebut dinamakan pulau burung jenjang (tsurujima) dan pulau kura-kura (kamejima). Pulau kecil di tengah kolam merupakan lambang pulau tempat tinggal Sennin, sekaligus bentuk harapan umur panjang dan hidup abadi. Di atas pulau kecil tersebut ditanam pohon tusam yang melambangkan umur panjang karena daunnya selalu hijau sepanjang tahun.

Pada zaman Muromachi, biksu Zen membangun taman dari batu, pasir, dan kerikil (karesansui) yang mencerminkan konsep Zen mengenai disiplin, mawas diri, dan pencerahan. Taman batu Zen dimaksudkan untuk meditasi, dan biasanya dibangun di sebelah selatan kuil. Hamparan pasir dan kerikil diatur dengan penggaruk bambu untuk membuat berbagai macam pola air seperti ombak, pusaran air, dan riak air.
Taman dan gedung mewah yang terlihat agung dan mencolok merupakan ciri khas arsitektur zaman Azuchi-Momoyama. Sebagai reaksi dari kemewahan tersebut tercipta kesederhanaan dalam seni minum teh dan taman rumah teh (roji).

TEMA

Walaupun elemen-elemen dasar dan prinsip yang mendasari desain taman dapat berbeda-beda, tema-tema tertentu dapat dijumpai di berbagai jenis taman, misalnya pulau kecil (disebut Hōraijima atau Pulau Hōrai) yang dibangun di tengah-tengah kolam. Di atas pulau kecil tersebut kadang-kadang diletakkan diletakkan sebuah batu besar yang melambangkan Sumeru dalam kosmologi Buddha atau Gunung Hōrai dalam Taoisme. Sebagai lambang utopia atau “tanah kebahagiaan”, pulau kecil di taman tidak untuk dimasuki orang. Antara pulau dan bagian taman yang lain sengaja tidak dibangun jembatan.
Tema-tema lain yang umum adalah kombinasi dari elemen-elemen dasar seperti batu-batu, pulau kecil, dan pepohonan untuk melambangkan kura-kura dan burung jenjang yang keduanya merupakan lambang umur panjang di Jepang. Pulau kecil di tengah kolam dibangun seperti bentuk kura-kura atau diletakkan batu yang melambangkan kura-kura di tepian. Tema lain yang populer adalah Gunung Fuji atau miniatur lanskap-lanskap terkenal di Jepang.

ELEMEN DASAR TAMAN JEPANG
Air : Elemen dasar dalam taman Jepang adalah air, batu, dan tanaman. Selain sebagai sumber kehidupan, air digunakan untuk menyucikan benda dari dunia profan sebelum memasuki kawasan sakral. Air dialirkan dari sungai untuk membuat kolam dan air terjun.

Tanaman : Bertolak belakang dari batu yang melambangkan keabadian, pohon, perdu, bambu, rumpun bambu, lumut, dan rumput adalah benda hidup yang tumbuh seiring dengan musim sebelum menjadi tua dan mati. Bertolak belakang dengan taman gaya Eropa yang berfokus pada warna-warni semak dan bunga, taman di kuil Zen hanya berupa hamparan pasir. Taman rumah teh hanya menggunakan tanaman berdaun hijau dan pohon maple yang daunnya menjadi merah di musim gugur.
Perbedaan antara lereng gunung, padang rumput, dan lembah dinyatakan dalam pemakaian berbagai macam spesies pohon dan perdu yang dipotong dan dipangkas hingga menyerupai berbagai bentuk. Pohon dan perdu juga dipakai sebagai penghubung antardua lokasi pemandangan di dalam taman. Bukit-bukit buatan dibangun dari gundukan tanah.

Batu : Batu-batu disusun untuk menyerupai bentuk-bentuk alam seperti pegunungan, air terjun, dan pemandangan laut, dan dipilih berdasarkan bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Batu adalah elemen terpenting dalam taman karena dapat dipakai untuk melambangkan pegunungan, garis pantai, dan air terjun. Di taman yang memiliki pulau kura-kura dan pulau burung jenjang di tengah kolam, batu-batu diletakkan untuk memberi kesan adanya kepala dan ekor.
Batu-batu berukuran sedang digunakan sebagai batu pijakan (tobiishi, arti harfiah batu loncatan) yang dipasang bersela-sela di jalan setapak. Batu-batu yang menutup jalan setapak disebut batu ubin (shikiishi). Ketika berjalan di atasnya saat hari hujan, pakaian dan alas kaki akan terhindar dari percikan air, tanah, dan lumpur.

Di taman batu Jepang, hamparan pasir dan kerikil diratakan dengan penggaruk menjadi pola-pola yang melambangkan benda yang mengalir seperti awan dan arus air. Butiran pasir dan kerikil yang dipakai tidak berukuran terlalu halus karena mudah diterbangkan angin atau dihanyutkan oleh air hujan. Sebaliknya, butiran pasir dan kerikil yang berukuran terlalu besar akan sulit ditata dengan penggaruk. Pemilihan pasir dan kerikil juga mempertimbangkan warna. Pasir berwarna putih memberi kesan murni dan cemerlang di bawah sinar matahari, sedangkan pasir berwarna gelap mengesankan keheningan.

air tmn jpg

Batu untuk taman berasal dari pegunungan, pinggir laut, atau pinggir sungai, dan digolongkan menjadi tiga jenis: batuan sedimen, batuan beku, dan batuan malihan. Batuan sedimen biasanya memiliki permukaan yang halus dan bulat karena terkikis air. Batuan seperti ini dipasang di pinggir kolam dan sebagai batu pijakan di jalan setapak. Batuan beku berasal dari gunung berapi dan biasanya memiliki bentuk dan tekstur yang kasar. Batu seperti ini dipakai sebagai batu pijakan atau sebagai elemen yang menonjol, misalnya diletakkan untuk melambangkan puncak gunung. Batuan malihan adalah batu keras yang biasanya dipasang di sekeliling air terjun atau aliran air. Batu potong dari batuan sedimen juga populer untuk membangun jembatan, wadah batu berisi air, dan lentera batu.

Pagar : Di taman rumah teh dan taman Jepang model kolam di tengah (shisen kaiyū), pagar dan bangunan gerbang merupakan elemen penting dalam lanskap. Pagar secara garis besar terdiri dari pagar hidup (ikigaki) dari tanaman perdu yang dipangkas dan pagar buatan dari kayu atau bambu. Pagar hidup berfungsi sebagai pembatas, penghalang pandangan, pelindung dari angin, api, dan debu, serta penghambat suara. Pagar bambu tembus cahaya (sukashigaki) disusun dari batang-batang bambu yang lebar-lebar jaraknya hingga pemandangan di balik pagar masih terlihat. Sebaliknya, pagar pembatas (shaheigaki) dibangun dari susunan bambu yang rapat dan membatasi pemandangan di baliknya.Di dalam taman tidak digunakan dinding dari tanah yang dikeraskan, kayu, atau batu. Dinding hanya dipakai sebagai dinding luar pembatas taman.

Lentera : Lentera (tōrō) berasal dari tradisi Cina untuk menyumbangkan lentera ke kuil Buddha. Sejak zaman Heian, lentera juga disumbangkan ke kuil Shinto untuk penerangan di malam hari dan sebagai hiasan. Lentera batu mulai dijadikan dekorasi standar di taman rumah teh sejak zaman Muromachi.Setelah menjadi mode di taman-taman rumah teh, lentera batu akhirnya dipasang di berbagai taman Jepang karena keindahan dan kegunaannya.

Wadah Air : Wadah batu berisi air (tsukubai) adalah perlengkapan standar taman rumah teh. Air dari tsukubai dipakai untuk mencuci tangan tamu sebelum mengikuti upacara minum teh. Tradisi menyediakan wadah batu berisi air di taman rumah teh berasal dari tradisi menyediakan wadah batu berisi air dalam agama Buddha dan Shinto. Sebelum berdoa di kuil, orang berkumur dan membersihkan diri dengan air dari wadah batu yang disebut chōzubachi. Wadah batu yang diletakkan di tanah disebut tsukubai chōzubachi (disingkat tsukubai) karena orang yang mengambil air harus berjongkok (tsukubau). Setelah banyak dipasang di taman-taman, tsukubai akhirnya dijadikan perlengkapan standar di taman-taman rumah teh.

wadah air

Selain tsukubai terdapat dua bentuk lain wadah air dari batu. Wadah batu yang memungkinkan orang mengambil air sambil berdiri disebut tachi chōzubachi (chōzubachi berdiri). Wadah air yang diletakkan berdekatan dengan beranda bangunan disebut ensaki chōzubachi (chōzubachi beranda).
Jembatan : Dalam desain taman dengan air sebagai subjek utama, jembatan adalah elemen dasar yang menambah harmoni dalam lanskap. Jembatan juga berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian taman yang dipisahkan oleh air. Di taman batu Jepang, jembatan batu dibangun untuk memberi kesan bahwa di bawah jembatan ada “air” yang mengalir.Di taman gaya Jōdo, jembatan melambangkan jembatan Sungai Sanzu yang harus diseberangi arwah orang yang meninggal untuk sampai ke akhirat. Selain itu, jembatan berfungsi sebagai pemisah, seperti halnya fungsi gerbang tengah (chūmon) di taman teh yang memisahkan taman dalam (kawasan sakral) dan taman luar (kawasan profan).

Daftar Pustaka :
Young, Michiko; Tan Hong Yew (2005). The Art of the Japanese Garden. Tuttle Publishing. ISBN 0-8048-3598-5.
Earle, Joe; Sadao Hibi (2000). Infinite spaces: the art and wisdom of the Japanese garden Gardening Series. Tuttle Publishing. ISBN 0-8048-3259-5.
Wikipedia.org
(Dirangkum oleh Redaksi Iali-Isla.or.id/Okt2013)

Silaturahmi dengan Dirjen Ekonomi Kreatif, Media, Desain dan Iptek

Dalam acara Silaturahmi dengan Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif, Media, Desain dan Iptek (DJ EKMDI), Bapak Harry Waluyo, memenuhi undangan dari Direktur Desain dan Arsitektur (DDA), Ibu Zoraida Ibrahim, pada hari Jumat 11 Oktober 2013 jam 13:00 di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, saya merasa perlu berbagi karena Bapak DJEKMDI yang berlatarbelakang antropologi dan erat dengan kebudayaan tersebut memaknai pertemuan dengan pesan yang sangat mendalam kepada arsitek lanskap Indonesia. Silaturahmi yang pada awalnya mengundang saya, Ibu Siti Nurisyah, Bapak Omar S. Ichwan, Bapak Hengki Heksanto, sehari sebelum silaturahmi ditambah dengan Ibu Mariana Harahap, Ibu Peni Susanti, dan Ibu Dani Mirwanti. Silaturahmi juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DJEKMDI, Ibu Poppy Savitri.

Bapak DJ EKMDI membuka silaturahmi dengan menyajikan sebuah film berdurasi sekitar empat menit tentang APEC yang baru selesai bersidang minggu lalu. Tiga kata penting yang tertinggal di benak saya dari film tersebut adalah : ‘development’, ‘sustainability’ dan ‘resilience’. Bapak DJ EKMDI menggarisbawahi 2 (dua) hal penting, yaitu : (1) negara2 APEC memiliki komitmen tinggi untuk tetap bersatu menghadapi perubahan2 yang terus bergulir di dunia dan (2) nama pemerintah Indonesia yang sangat bagus di internasional. Menanggapi film tersebut pertanyaan2 dan penyataan2 beliau sangat mengesankan, diantaranya menanyakan kepada hadirin ‘siapa pemrakarsa APEC yang dari awal sampai kini tetap komit’. Ibu Siti Nurisyah menyahut cepat : Brunai. Sebuah negara kecil, namun memiliki sumberdaya alam yang tidak dapat kita abaikan.

Silaturahmi dengan nasi kuning tumpeng di atas meja, juga membagikan fotokopi memuat penjelasan lengkap tentang filosofi dibalik kuliner Jawa yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Simbol dan makna tumpeng dijelaskan dengan rinci melalui bahan makanan dan cara pengolahannya. Seluruh bahan makanan dan cara pengolahannya menggambarkan sifat2 baik dan buruk manusia dan bagaimana mengelola sifat2 tersebut. Sungguh suatu pesan yang mengagumkan dan bermakna sangat mendalam bagi arsitek lanskap yang harus selalu berorientasi kepada manusia, karena tugas dan tanggungjawab profesinya bergelut dengan perencanaan, perancangan dan pengelolaan ruang luar dan lingkungannya. Harapan2 agar kesejahteraan hidup semakin ‘naik’ dan ‘tinggi’ serta sifat2 buruk manusia seperti sombong, congkak, merasa tahu/benar sendiri, tidak setia, maupun sifat2 baiknya seperti ketabahan, keuletan, kebersamaan dan kerukunan dimaknai dalam setiap jenis bahan dan pengolahan nasi tumpeng.

Salah satu contoh adalah telur yang harus disajikan utuh bersama kulitnya dan oleh karenanya harus direbus pindang sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang Jawa mengajarkan ‘tata, titi, titis, dan tatas’ yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Betapa mendalamnya makna silaturahmi dengan Bapak DJEKMDI untuk arsitek lanskap Indonesia bahkan ketika sampai pada saat mengajak makan siang bersama. Tumpeng dipotong oleh beliau dan menanyakan siapa di antara yang hadir yang termuda usianya. Ibu Mariana memperoleh ujung tumpeng dari Bapak DJEKMDI karena termuda di antara yang hadir. Pertanyaan muncul mengapa bukan yang tertua mendapat kehormatan tersebut. Sekali lagi Bapak DJEKMDI menjawab dengan bijak : yang tua dapat melakukannya sendiri … Beliau menambahkan pula : yang pasti mereka yang tua pernah muda namun yang muda pasti belum pernah tua. Sungguh satu jawaban penuh canda yang sangat bermakna!

Silaturahmi selesai dengan berfoto bersama sambil mengacungkan jari2 tangan kita menggambarkan huruf ‘K’ yang artinya ‘kreatif.’ Sangat tepat sekali dengan profesi arsitek lanskap yang harus selalu kreatif dalam menjembatani penciptaan lingkungan harmonis dari lanskap alam dan budaya Indonesia yang memiliki keberagaman sangat tinggi.

Silaturahmi dengan Bapak DJ EKMDI sangat mengesankan. Saya kagum dengan pesan yang sangat mendalam dari Bapak DJEKMDI menghadapi Indonesia sebagai tuan rumah 2015 IFLA APR Congress. Pertanyaan muncul dalam diri saya, mampukah seluruh arsitek lanskap Indonesia memahami ‘local wisdom’ yang disampaikan oleh Bapak DJEKMDI. Sanggupkah bersatu dan secara profesional membangun negeri ini menghadapi perubahan2 dunia yang terus bergulir dengan cepat? Tantangan2 di luar sana semakin besar. Masa depan profesi ada di tangan kita, kecuali kalau kita akan merelakan yang di luar sana menebas jalan kita …

Salam,
S. Sekartjakrarini
Delegate ISLA to IFLA
Ketua Bidang Luar Negeri PN IALI

Arsitek(tur) Lansekap

“Lanskap adalah wajah atau karakter lahan dari permukaan bumi baik itu alami maupun buatan, yang merupakan total dari lingkungan hidup manusia beserta makhluk hidup lainnya. Lanskap memiliki beberapa sub antara lain: kota (town-sape), jalan (street-scape), lapangan golf dan sejenisnya (lawn-scape), sungai (river-scape), atap bangunan (roof-scape), pantai dan pemandangan laut lainnya (sea-scape), area industri (industrial-scape), pemukiman (residential-scape), pedesaan (rural-scape), daerah (regional-scape), dan lainnya.

Arsitektur Lanskap adalah bidang ilmu dan seni yang mempelajari pengaturan ruang dan massa di alam terbuka, dengan mengkomposisikan elemen-elemen lanskap baik alami maupun buatan. Tujuannya agar tercipta sebuah keteraturan, terciptanya suatu karya lingkungan yang fungsional serta berestetika, sehingga tercapai kepuasan manusia, namun tetap selaras dengan alam.

Arsitek Lanskap adalah seseorang profesional yang mendapatkan pendidikan dalam bidang ilmu dan seni arsitektur lanskap serta aktif dalam kegiatan perancangan tanaman (landscape planning), perencanaan tapak (site planning), serta perencanaan detail taman (detail landscape design). Peran arsitek lanskap dalam kehidupan sangat penting, dalam mewujudkan suatu taman yang indah tak hanya cukup dengan sekedar indah namun harus juga difikirkan bagaimana fungsionalitasnya, selain itu kesesuaian antara komponen (contoh, tanaman) dengan habitatnya juga harus dipertimbangkan karena tidak semua tanaman bisa hidup baik dalam semua kondisi lahan. Arsitek lanskap lah yang paling paham dalam mengkombinasikan beberapa hal tersebut demi terciptanya sebuah taman yang fungsional serta bernilai estetika tinggi.

Peran seorang arsitek lanskap di era 90-an semakin banyak peminatnya. Masyarakat perkotaan pada umumnya mulai membuka mata akan kebutuhan lahan hijau yang sebelumnya tidak terlalu dipedulikan. Selain itu isu pemanasan global juga memicu naiknya minat masyarakat dalam melakukan perombakan lahan terbukanya menjadi lahan hijau, proses modernisasi juga mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam mewujudkan lahan hijau tak hanya sekedar punya. Namun masyarakat menginginkan keindahan dalam lahan hijaunya. Sayangnya Banyak perusahan jasa konstruksi di kota-kota besar malah kekurangan jasa arsitek lanskap, bahkan tak jarang dalam memenuhi kebutuhannya para perusahaan menggunakan jasa tenaga asing. Hal tersebut dikarenakan SDM yang kompeten dalam bidang ini tak banyak dihasilkan, tak banyak universitas yang menyediakan program studi arsitektur lanskap. IPB beruntung karena memiliki program studi ini, dan IPB merupakan salahsatu penghasil Arsitek-arsitek lanskap terbaik negeri.

Arsitektur Lanskap di IPB dimulai dari minor Departemen Agronomi. Pelopornya adalah Ir. Zain Rachman (alm.) pengembangannya dilakukan melalui penelitian dan praktek lapang atau keterampilan profesi. Tahun 1985 adalah awal mula didirikan program studi Arsitektur Pertamanan oleh Ir. Zain Rachman, Ir. Nurhajati A. Mattjik, Ir. Siti Nurisjah, MSLA, Dr. Ir. Harry Hardjakusumah, MSLA, Ir. Aris Munandar, Ir. Hadi Susilo Arifin, Ir. Iswari Saraswati Dewi, Ir. Nurhayati, Ir. Bambang Sulistyantara, Ir. Nizar Nasrulloh, dan Ir. Andi Gunawan, dan didukung oleh Prof. Dr. Ir. Ahmad Surkati M.Sc. dan Prof. Dr. IrSri Setyati Harjadi, M.Sc. Pada angkatan pertama Program studi Arsitektur Pertamanan menerima duabelas mahasiswa (IPB Angkatan 21)

Pada tahun 1999/2000 terjadi perubahan nama dari Arsitektur Pertamanan menjadi Arsitektur Lanskap. Lalu Program Studi Arsitektur Lanskap membuka program lanjutan untuk strata dua yang masih dibawah Progam Studi Agronomi. Tahun berikutnya Program Studi ARL Fakultas Pascasarjana-IPB sudah berdiri sendiri. Sejak awal berdiri, program studi Arsitektur Lanskap memiliki kompetensi yang berbeda dengan program studi lainnya di Departemen Agronomi. Selain itu matakuliah kompetensinya juga terhitung cukup banyak. Arsitektur Lanskap memiliki mata kuliahnya sangat signifikan dan mempunyai kompetensi tersendiri dibandingkan denga Program Studi Agronomi, Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, dan Holtikultura. Akhirnya pada tahun 2005 Program studi ini menjadi Departemen sendiri dengan Program Studi Arsitektur Lanskap sebagai mayornya.

Departemen Arsitektur Lanskap memiliki pembagian yaitu: Bagian Perencanaan Lanskap, Bagian Desain Lanskap, Bagian Pengelolaan Lanskap, dan Bagian Tanaman Lanskap.

*dari berbagai sumber.”“Lansekap adalah wajah atau karakter lahan dari permukaan bumi baik itu alami maupun buatan, yang merupakan total dari lingkungan hidup manusia beserta makhluk hidup lainnya. Lanskap memiliki beberapa sub antara lain: kota (town-sape), jalan (street-scape), lapangan golf dan sejenisnya (lawn-scape), sungai (river-scape), atap bangunan (roof-scape), pantai dan pemandangan laut lainnya (sea-scape), area industri (industrial-scape), pemukiman (residential-scape), pedesaan (rural-scape), daerah (regional-scape), dan lainnya.

Arsitektur Lansekap adalah bidang ilmu dan seni yang mempelajari pengaturan ruang dan massa di alam terbuka, dengan mengkomposisikan elemen-elemen lanskap baik alami maupun buatan. Tujuannya agar tercipta sebuah keteraturan, terciptanya suatu karya lingkungan yang fungsional serta berestetika, sehingga tercapai kepuasan manusia, namun tetap selaras dengan alam.

Arsitek Lansekap adalah seseorang profesional yang mendapatkan pendidikan dalam bidang ilmu dan seni arsitektur lanskap serta aktif dalam kegiatan perancangan tanaman (landscape planning), perencanaan tapak (site planning), serta perencanaan detail taman (detail landscape design). Peran arsitek lansekap dalam kehidupan sangat penting, dalam mewujudkan suatu taman yang indah tak hanya cukup dengan sekedar indah namun harus juga difikirkan bagaimana fungsionalitasnya, selain itu kesesuaian antara komponen (contoh, tanaman) dengan habitatnya juga harus dipertimbangkan karena tidak semua tanaman bisa hidup baik dalam semua kondisi lahan. Arsitek lansekap lah yang paling paham dalam mengkombinasikan beberapa hal tersebut demi terciptanya sebuah taman yang fungsional serta bernilai estetika tinggi.

Peran seorang arsitek lansekap di era 90-an semakin banyak peminatnya. Masyarakat perkotaan pada umumnya mulai membuka mata akan kebutuhan lahan hijau yang sebelumnya tidak terlalu dipedulikan. Selain itu isu pemanasan global juga memicu naiknya minat masyarakat dalam melakukan perombakan lahan terbukanya menjadi lahan hijau, proses modernisasi juga mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam mewujudkan lahan hijau tak hanya sekedar punya. Namun masyarakat menginginkan keindahan dalam lahan hijaunya. Sayangnya Banyak perusahan jasa konstruksi di kota-kota besar malah kekurangan jasa arsitek lansekap, bahkan tak jarang dalam memenuhi kebutuhannya para perusahaan menggunakan jasa tenaga asing. Hal tersebut dikarenakan SDM yang kompeten dalam bidang ini tak banyak dihasilkan, tak banyak universitas yang menyediakan program studi arsitektur lanskap. Saat ini program studi Arsitektur Lansekap sudah tersedia di berbagai Universitas di seluruh Indonesia.

*dari berbagai sumber.”